Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat

Shalat Cegah Keji dan Munkar

MASJIDANNUUR.com| Jakarta–Bulan Rajab 1437 H telah tiba. Banyak peristiwa sejarah yang terjadi pada bulan ini, salah satunya ketika Allah SWT meng-israk-kan atau memperjalankan nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha setelah itu me-mi’raj-kan beliau ke Shidratul Muntaha, yang kita kenal dengan peristiwa israk dan mi’raj.

Pada waktu inilah Rasulullah SAW menerima perintah shalat fardhu lima waktu yang kita laksanakan sampai sekarang ini. Saking pentingnya shalat ini, sampai Rasulullah mengatakan dalam salah satu hadits beliau bahwa: “Shalat itu merupakan mi’rajnya kaum Muslimin”. Berikutnya dikatakan lagi bahwa: “Amal yang pertama diperiksa pada hari akhir nanti adalah shalat, kalau baik shalatnya maka baik pulalah amal selanjutnya”.  Selanjutnya, “Sesungguhnya pembeda antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”. demikian kata Nabi.

Allah SWT berfirman dalam QS Al ‘Ankabuut(29): 45, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  Kita lihat satu persatu pengertian firman Allah ini. Secara umum dalam menjalankan agama Islam ini,  Allah SWT menyuruh kita sekalian untuk tilawah atau membaca Al Quran, karena di sana terdapat lafazh-lafazh shalat. Diharapkan dengan membaca Al Quran kita dapat memahami dan mengerti tata cara shalat yang akan dikerjakan. Sehingga shalat kita ini bermakna dan berkualitas sesuai dengan perintah Allah untuk mendirikan shalat.

Berikutnya dalam ayat ini disebutkan perintah shalat secara khusus, padahal perintah shalat masuk dalam keumuman perintah tilawatul kitab. Ini tidak lain dan tidak bukan karena shalat memiliki banyak keutamaan diantaranya mencegah dari perbuatankeji dan mungkar. Pengertian perbuatan keji ialah seluruh dosa besar dan sangat buruk, namun jiwa terpancing untuk melakukannya. Sementara Al Munkar adalah setiap maksiat yang diingkari oleh akal dan fithrah manusia. Bila seorang hamba mengerjakan shalat secara sempurna serta khusyu’, maka itu dapat menerangi dan membersihkan hatinya menambah keimanannya dan menambah keinginan untuk berbuat baik.

Lalu Allah perintahkan untuk berdzikir. Dzikir dalam shalat mencakup dzikir hati, lisan dan badan. “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepadaNya” (QS Adzdzaariyaat(51): 56). Dan ibadah yang paling afdhal yang dilakukan manusia adalah shalat. Di dalam shalat terdapat ibadah dengan menggunakan seluruh tubuh, yang tidak terdapat pada ibadah lainnya. Oleh karena itu Allah mengatakan, “Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain)”. “Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”, Pekerjaan yang baik maupun yang buruk akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang sesuai”.

Pertanyaan yang paling umum dan mendasar di kalangan kaum Muslimin, betapa banyak umat Islam yang telah melakukan shalat, tetapi mengapa masih melakukan perbuatan keji dan mungkar, alias STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan)?. Berarti ada yang salah dalam shalat mereka itu. Syeikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi hafizhahullaah, seorang ulama dan pakar fiqih, mengatakan bahwa:  sekurang-kurangnya ada empat hal yang harus dilakukan supaya shalat mempunyai cahaya energi yang kuat untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Pertama ikhlas dalam shalat, kedua menjaga kebersihan hati dalam shalat karena hanya takut kepada Allah, ketiga melaksanakan shalat sesuai rukun dan syaratnya, waktu dan tempatnya serta berjamaah, dan keempat hendaknya shalat dilakukan dengan khusyu’.

Ikhlas menyangkut niat shalat. Shalat hanya ditegakkan karena Allah atau lillaahi ta’alaa.  Kalau shalat dilakukan karena yang lain atau selain Allah sudah dapat dipastikan akan tergantung dari kepada siapa shalat itu ditujukan.

Shalat harus dilaksanakan dengan hati dan pikiran yang bersih. Karena dengan hati dan pikiran yang bersihlah shalat itu dilakukan dengan tanggung jawab dan kesadaran yang penuh sebagai perintah Allah kepada hambanya.

Dengan melakukan shalat sesuai dengan rukun dan syaratnya ini akan dapat ditingkatkan kualitas shalat yang lebih baik, mulai dari niat, takbiratul ihram sampai dengan salam dilengkapi dengan thuma’ninah yang rapi. Apalagi ditambah dengan syarat cukupnya dilakukan di awal atau pada waktunya serta bertempat di masjid dan berjamaah, akan menghasilkan shalat yang memenuhi syarat perlu dan cukup di hadapan Allah SWT.

Ditambah lagi kalau shalat ini dilakukan dengan khusyu’. Para ulama berpendapat bahwa minimal khusyu’ ini, adalah kita sadar bahwa kita sedang shalat. Ini tentu memerlukan pelatihan dan riyaadhah yang terus menerus.

Kepada Allah kita bermohon, semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk tetap menjaga hati dan jiwa serta fikiran kita dalam meningkatkan kualitas shalat kita sehingga tercapai shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ya Allah terimalah shalat kami, berdirinya kami, rukuknya kami, sujudnya kami, khusyu’nya kami, kerendahan hati kami, penghambaan kami, dan sempurnakanlah kekurangan dan kelemahan kami ya Allah, dengan rahmat dan kasih sayangMu, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wallaahu a‘lam bishshawaab. [FAT]

Tulisan Oleh: Ustadz H. Emil Azman Sulthani

Leave a Reply

ALAMAT

Masjid An-Nuur Perumahan Permata Timur Curug Kalimalang Jakarta Timur 13450
Phone: (021) 86900849
Fax: (021) 86900877
Website: http://masjidannuur.com
Email: masjidannuur212@gmail.com

DISCLAIMER

Important: This site has been setup purely for demonstration purposes and all the content are designed to showcase the uDESIGN WP theme as it could look on a live site.
All images are copyrighted to their respective owners.