Jurnal Security | Risiko merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan perusahaan maupun organisasi. Risiko dapat muncul dari berbagai sumber dan dapat menimbulkan kerugian bagi manusia, harta benda, lingkungan, maupun keberlangsungan perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan manajemen risiko yang baik agar berbagai risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara tepat. Salah satu tahapan penting dalam manajemen risiko adalah pemetaan risiko. Pemetaan risiko dilakukan dengan mengelompokkan risiko berdasarkan tingkat kemungkinan terjadinya dan dampak yang ditimbulkan. Melalui pemetaan risiko, perusahaan dapat menentukan risiko yang perlu mendapatkan prioritas penanganan. Selain menggunakan probabilitas dan dampak, penilaian risiko juga dapat dilakukan dengan metode Delphi dan prosedur perbandingan berpasangan. Artikel ini membahas pengertian bahaya dan risiko, jenis-jenis bahaya, konsep pemetaan risiko, teknik pemetaan, metode Delphi, prosedur perbandingan berpasangan, tahapan pemetaan risiko, contoh matriks risiko, strategi penanganan risiko, serta pentingnya pemetaan risiko dalam menentukan prioritas penanganan risiko.
Kata kunci: risiko, pemetaan risiko, manajemen risiko, probabilitas, dampak, prioritas risiko.
1. Pendahuluan
Dalam menjalankan kegiatan usaha, setiap perusahaan menghadapi berbagai macam risiko. Risiko dapat berasal dari kegiatan operasional, penggunaan mesin dan peralatan, listrik, bahan kimia, kondisi lingkungan kerja, sumber daya manusia, maupun faktor eksternal. Apabila risiko tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan kecelakaan, kerugian, gangguan kegiatan operasional, bahkan dapat menghambat pencapaian tujuan perusahaan.Bahaya atau hazard merupakan segala sesuatu yang mempunyai kemungkinan mengakibatkan kerugian terhadap harta benda, lingkungan, maupun manusia. Menurut Ramli (2010), bahaya merupakan segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan, cedera pada manusia, kerusakan, atau gangguan lainnya.
Karena setiap perusahaan dapat menghadapi banyak risiko, perusahaan tidak dapat memberikan perhatian dan sumber daya yang sama kepada seluruh risiko. Oleh sebab itu, diperlukan proses pemetaan risiko untuk mengetahui karakteristik risiko dan menentukan risiko mana yang harus mendapatkan perhatian lebih dahulu. Pemetaan risiko merupakan penyusunan risiko berdasarkan kelompok tertentu sehingga manajemen dapat mengidentifikasi karakter setiap risiko dan menetapkan tindakan yang sesuai.Dengan adanya pemetaan risiko, perusahaan dapat lebih terarah dalam melakukan pengendalian. Risiko yang memiliki kemungkinan tinggi atau memberikan dampak besar dapat menjadi prioritas untuk ditangani.
2. Pengertian Risiko dan Manajemen Risiko
Risiko dapat diartikan sebagai ketidakpastian yang telah diketahui tingkat probabilitas kejadiannya. Sementara itu, manajemen risiko merupakan pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam menangani risiko yang dihadapi perusahaan. Kegiatan manajemen risiko meliputi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, koordinasi, dan pengawasan terhadap program penanggulangan risiko.Setiap perusahaan dapat menghadapi risiko yang berbeda karena jenis dan karakteristik usaha yang dijalankan tidak sama. Secara umum, risiko dalam perusahaan dapat dibedakan menjadi risiko keuangan, risiko operasional, risiko strategis, dan risiko eksternalisasi. Risiko keuangan berkaitan dengan perubahan kondisi keuangan perusahaan, risiko operasional berkaitan dengan kegagalan sistem, sumber daya manusia, teknologi, atau proses kerja, sedangkan risiko strategis berkaitan dengan keputusan strategis perusahaan. Risiko eksternalisasi dapat muncul karena pengaruh faktor eksternal perusahaan.Manajemen risiko diperlukan agar perusahaan dapat mengantisipasi kemungkinan kerugian dan menentukan tindakan yang tepat terhadap risiko yang dihadapi.
3. Jenis-Jenis Bahaya
Bahaya yang terdapat di lingkungan kerja dapat berasal dari berbagai sumber:
Bahaya mekanis berasal dari peralatan mekanis atau benda yang bergerak. Contohnya adalah mesin gerinda, mesin bubut, mesin potong, mesin press, dan mesin lainnya. Bahaya mekanis dapat menyebabkan pekerja mengalami tersayat, terjepit, atau terpotong.
Bahaya listrik berasal dari energi listrik. Risiko yang dapat ditimbulkan antara lain sengatan listrik, kebakaran, dan hubungan singkat. Bahaya ini dapat berasal dari jaringan listrik maupun peralatan dan mesin yang menggunakan energi listrik.
Bahaya kimiawi berasal dari senyawa, unsur, atau bahan kimia. Bahan kimia dapat menimbulkan berbagai bahaya, seperti keracunan, iritasi, kebakaran, ledakan, polusi, dan pencemaran lingkungan.
Bahaya fisik berasal dari faktor-faktor fisik seperti kebisingan, tekanan, getaran, suhu panas atau dingin, serta pencahayaan. Faktor tersebut dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan pekerja.
Bahaya biologis bersumber dari unsur biologis seperti flora dan fauna yang terdapat di lingkungan kerja.
Bahaya ergonomi disebabkan oleh desain pekerjaan dan penataan tempat kerja yang kurang nyaman bagi pekerja. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan pada pekerja.
Bahaya psikologis dapat disebabkan oleh jam kerja yang panjang, shift kerja yang tidak menentu, hubungan antarpekerja yang kurang baik, pembagian pekerjaan yang tidak proporsional, serta kurangnya perhatian terhadap kehidupan sosial pekerja. Kondisi tersebut dapat menyebabkan stres pada pekerja.
4. Pemetaan Risiko
Pemetaan risiko merupakan salah satu bagian dari proses pengukuran risiko. Pemetaan dilakukan dengan menyusun risiko ke dalam kelompok-kelompok tertentu sehingga manajemen dapat mengetahui karakteristik setiap risiko dan menentukan tindakan yang sesuai.Pemetaan risiko juga berhubungan dengan keterbatasan sumber daya perusahaan. Perusahaan tidak harus memberikan perhatian yang sama terhadap semua risiko. Ada risiko yang membutuhkan perhatian khusus dan ada juga risiko yang dapat diberikan perhatian lebih rendah. Oleh karena itu, pemetaan risiko digunakan untuk menentukan prioritas penanganan.
Dengan demikian, pemetaan risiko dapat membantu perusahaan menjawab pertanyaan mengenai risiko apa yang paling perlu diperhatikan dan risiko apa yang dapat ditangani kemudian.
5. Faktor dalam Pemetaan Risiko
Pemetaan risiko pada dasarnya menggunakan dua faktor utama, yaitu probabilitas dan dampak
Probabilitas menunjukkan tingkat kemungkinan suatu risiko terjadi. Semakin tinggi kemungkinan suatu risiko terjadi, semakin besar perhatian yang perlu diberikan oleh manajemen. Sebaliknya, risiko yang memiliki kemungkinan rendah dapat memperoleh tingkat perhatian yang lebih rendah.
Dampak menunjukkan tingkat kegawatan atau kerugian yang muncul apabila risiko benar-benar terjadi. Semakin besar dampak suatu risiko, semakin besar pula perhatian dan sumber daya yang diperlukan untuk menanganinya.
3.Hubungan Probabilitas dan Dampak
Probabilitas dan dampak perlu dilihat secara bersama-sama. Risiko yang memiliki kemungkinan tinggi dan dampak besar perlu mendapatkan perhatian yang serius. Sementara itu, risiko yang memiliki kemungkinan dan dampak rendah dapat memperoleh prioritas yang lebih rendah.
Dengan menggunakan kedua faktor tersebut, perusahaan dapat mengelompokkan risiko dan menentukan urutan penanganannya.
6. Metode Delphi dalam Pemetaan Risiko
Metode Delphi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian terhadap tingkat risiko. Metode ini melibatkan orang-orang yang memahami bagian perusahaan yang menjadi objek penilaian.Penggunaan metode Delphi memiliki beberapa alasan. Pertama, penilai yang digunakan merupakan pihak yang memahami bagian perusahaan yang dinilai. Kedua, data mengenai tingkat risiko pada setiap bagian perusahaan tidak selalu mudah diperoleh. Ketiga, metode ini dapat membantu menghindari gangguan komunikasi antar kelompok, seperti dominasi seseorang, tekanan dalam menyampaikan pendapat, konflik pribadi, atau permusuhan antar kelompok.Dalam metode Delphi terdapat beberapa istilah, yaitu seminar Delphi, interviewer, responden, round, dan kuesioner. Responden merupakan pihak yang berpartisipasi dalam proses Delphi dan memiliki pengetahuan mengenai risiko pada bidang pekerjaannya.Proses Delphi dilakukan dalam beberapa round sampai diperoleh kesepakatan pendapat. Kesepakatan dapat diketahui dengan melihat kestabilan pendapat responden dari satu round ke round berikutnya.
7.Prosedur Perbandingan Berpasangan
Selain metode Delphi, penentuan prioritas risiko dapat menggunakan prosedur perbandingan berpasangan. Prosedur ini merupakan metode pembobotan terhadap beberapa kriteria dalam proses pengambilan keputusan.Perbandingan dilakukan dengan menggunakan matriks. Setiap elemen dibandingkan dengan elemen lainnya untuk mengetahui tingkat kepentingan, kontribusi, atau dominasi suatu elemen terhadap elemen lainnya.Dalam skala perbandingan yang dikembangkan oleh Saaty, nilai 1 menunjukkan dua elemen memiliki kepentingan yang sama. Nilai 3 menunjukkan salah satu elemen sedikit lebih penting, nilai 5 menunjukkan lebih penting, nilai 7 menunjukkan jauh lebih penting, dan nilai 9 menunjukkan mutlak lebih penting. Nilai 2, 4, 6, dan 8 digunakan sebagai nilai tengah ketika diperlukan kompromi dalam penilaian.
Prosedur ini dapat membantu perusahaan memberikan bobot terhadap kriteria yang digunakan sehingga keputusan mengenai prioritas risiko dapat dilakukan secara lebih sistematis.
8. Pengujian Konsistensi
Dalam melakukan perbandingan berpasangan, konsistensi penilaian merupakan hal yang penting. Apabila suatu elemen dinilai lebih penting daripada elemen lainnya, hubungan penilaian tersebut seharusnya tetap konsisten ketika dibandingkan dengan elemen lainnya.Namun, kemampuan manusia dalam memberikan penilaian tidak selalu menghasilkan hubungan yang konsisten, terutama ketika jumlah elemen yang dibandingkan cukup banyak. Oleh karena itu, diperlukan pengujian konsistensi secara numerik.
Pengujian konsistensi menggunakan Consistency Index (CI) dan Consistency Ratio (CR). suatu matriks perbandingan dianggap konsisten apabila nilai CR tidak lebih dari 0,1.Pengujian tersebut penting karena hasil penilaian yang konsisten dapat membantu meningkatkan kualitas proses pengambilan keputusan dalam menentukan prioritas risiko.
9. Penerapan Pemetaan Risiko dalam Lingkungan Kerja
Pemetaan risiko dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan kerja. Sebagai contoh, pada perusahaan yang menggunakan mesin, terdapat kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat mesin bergerak. Risiko tersebut dapat diidentifikasi, kemudian dinilai berdasarkan kemungkinan terjadinya dan dampaknya terhadap pekerja maupun perusahaan.Pada lingkungan laboratorium, risiko juga dapat berasal dari penggunaan bahan kimia. Bahan kimia dapat bersifat beracun, korosif atau iritan, mudah terbakar, mudah meledak, oksidator, reaktif terhadap air, reaktif terhadap asam, dan radioaktif.Oleh karena itu, perusahaan atau organisasi perlu melakukan identifikasi terhadap setiap sumber bahaya. Setelah risiko diketahui, risiko tersebut dapat dipetakan berdasarkan probabilitas dan dampaknya. Hasil pemetaan kemudian digunakan untuk menentukan risiko yang perlu ditangani terlebih dahulu.
10. Tahapan Pemetaan Risiko
Pemetaan risiko bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian proses manajemen risiko. Secara umum, tahapan pemetaan risiko dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Identifikasi risiko. Perusahaan mendata seluruh sumber bahaya dan risiko pada setiap bagian kegiatan, misalnya melalui pengamatan langsung di lapangan, wawancara dengan pekerja, dan penelusuran catatan kecelakaan atau kejadian sebelumnya.
2. Penilaian probabilitas. Setiap risiko yang telah diidentifikasi dinilai seberapa besar kemungkinannya terjadi, misalnya dengan tingkat rendah, sedang, atau tinggi.
3. Penilaian dampak. Setiap risiko dinilai seberapa besar kerugian atau kegawatan yang timbul apabila risiko tersebut benar-benar terjadi, baik terhadap pekerja, harta benda, lingkungan, maupun kelangsungan kegiatan perusahaan.
4. Penempatan risiko pada peta. Hasil penilaian probabilitas dan dampak digabungkan dan ditempatkan pada matriks risiko sehingga posisi setiap risiko dapat dilihat secara jelas.
5. Penentuan prioritas. Berdasarkan posisinya pada peta, risiko diurutkan dari yang paling perlu ditangani hingga yang cukup dipantau.
6. Penanganan dan pemantauan. Perusahaan menetapkan tindakan pengendalian untuk risiko prioritas, kemudian memantau hasilnya dan memperbarui peta risiko secara berkala.
Tahapan tersebut bersifat berulang. Kondisi perusahaan, peralatan, dan lingkungan kerja dapat berubah, sehingga peta risiko perlu ditinjau kembali agar tetap menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
11. Matriks Pemetaan Risiko
Hasil penilaian probabilitas dan dampak umumnya disajikan dalam bentuk matriks risiko. Sebagai ilustrasi, Tabel 1 menunjukkan matriks sederhana dengan tiga tingkat probabilitas dan tiga tingkat dampak.
Tabel 1. Contoh Matriks Pemetaan Risiko (Tingkat Risiko)
Probabilitas \ Dampak | Rendah | Sedang | Tinggi |
Tinggi | Sedang | Tinggi | Tinggi |
Sedang | Rendah | Sedang | Tinggi |
Rendah | Rendah | Rendah | Sedang |
Pada contoh tersebut, risiko yang berada pada sel berwarna merah (tingkat risiko tinggi) menjadi prioritas utama dan perlu ditangani lebih dahulu. Risiko pada sel berwarna kuning (tingkat sedang) perlu dikendalikan dan dipantau secara berkala, sedangkan risiko pada sel berwarna hijau (tingkat rendah) cukup diawasi dengan sumber daya yang lebih sedikit.
Sebagai contoh, mesin gerinda yang tidak dilengkapi pelindung memiliki kemungkinan menimbulkan kecelakaan pada tingkat sedang, tetapi dampaknya terhadap pekerja dapat berat. Risiko tersebut berada pada kategori tinggi sehingga perlu segera ditangani. Sebaliknya, gangguan kecil yang jarang terjadi dan tidak berdampak besar dapat ditempatkan pada kategori rendah. Batas setiap tingkat dan cara penilaiannya dapat disesuaikan dengan kebijakan dan kondisi masing-masing perusahaan.
12. Strategi Penanganan Risiko
Setelah risiko dipetakan dan prioritasnya ditentukan, perusahaan perlu memilih cara penanganan yang sesuai. Secara umum, terdapat empat pilihan strategi, yaitu:
1. Menghindari risiko, yaitu menghentikan atau tidak melakukan kegiatan yang menimbulkan risiko, apabila risiko tersebut terlalu besar dibandingkan manfaatnya.
2. Mengurangi risiko, yaitu menurunkan probabilitas, dampak, atau keduanya, misalnya dengan memasang pelindung mesin, memperbaiki instalasi listrik, menyusun prosedur kerja yang aman, dan memberikan pelatihan kepada pekerja.
3. Mengalihkan risiko, yaitu memindahkan sebagian beban kerugian kepada pihak lain, misalnya melalui asuransi atau kontrak kerja sama dengan pihak ketiga.
4. Menerima risiko, yaitu memutuskan untuk tidak melakukan tindakan khusus apabila tingkat risikonya rendah dan biaya pengendaliannya lebih besar daripada manfaatnya.
Untuk bahaya di lingkungan kerja, pengendalian dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari menghilangkan sumber bahaya, mengganti bahan atau peralatan dengan yang lebih aman, melakukan perbaikan secara teknis, mengatur cara dan jam kerja, hingga menyediakan alat pelindung diri bagi pekerja. Dengan adanya pemetaan risiko, pilihan strategi tersebut dapat diarahkan terlebih dahulu pada risiko yang berada pada prioritas tertinggi.
13. Analisis
Menurut analisis kami, pemetaan risiko sangat penting bagi perusahaan karena membantu perusahaan menentukan risiko yang harus menjadi prioritas. Tidak semua risiko mempunyai tingkat kemungkinan dan dampak yang sama. Jika perusahaan memberikan perhatian yang sama terhadap semua risiko, sumber daya yang dimiliki dapat menjadi kurang efektif.Penggunaan probabilitas dan dampak dapat membantu perusahaan melihat risiko secara lebih terstruktur. Risiko dengan kemungkinan tinggi dan dampak besar perlu memperoleh perhatian lebih besar. Namun, risiko yang kemungkinan terjadinya rendah juga tidak selalu dapat diabaikan apabila dampaknya sangat besar.Metode Delphi dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh penilaian dari orang-orang yang memahami kondisi perusahaan dan risiko di bidang pekerjaannya. Sementara itu, prosedur perbandingan berpasangan dapat membantu memberikan bobot terhadap beberapa kriteria dalam menentukan prioritas.
Menurut kami, keberhasilan pemetaan risiko juga sangat bergantung pada proses identifikasi risiko yang dilakukan sebelumnya. Jika suatu risiko tidak berhasil diidentifikasi, risiko tersebut tidak dapat dipetakan dan tidak dapat menjadi bagian dari prioritas penanganan. Karena itu, perusahaan perlu melakukan identifikasi secara menyeluruh dan melibatkan pihak yang memahami kondisi nyata di lapangan.
14. Manfaat Pemetaan Risiko bagi Perusahaan
Pemetaan risiko memberikan beberapa manfaat bagi perusahaan, antara lain:
1.Membantu mengidentifikasi risiko yang terdapat dalam kegiatan perusahaan.
2.Mengelompokkan risiko berdasarkan karakteristik tertentu.
3.Menentukan prioritas penanganan risiko berdasarkan probabilitas dan dampaknya.
4.Membantu penggunaan sumber daya perusahaan agar lebih terarah.
5.Mendukung pengambilan keputusan dalam menghadapi risiko.
6.Membantu mengurangi potensi kerugian yang dapat terjadi akibat risiko.
7.Meningkatkan perhatian terhadap keselamatan kerja dengan mengidentifikasi berbagai jenis bahaya.
Dengan manfaat tersebut, pemetaan risiko menjadi bagian penting dalam penerapan manajemen risiko perusahaan.
15. Kesimpulan
Pemetaan risiko merupakan salah satu bagian penting dalam manajemen risiko yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengelompokkan, dan menentukan prioritas penanganan risiko. Risiko dapat berasal dari berbagai jenis bahaya, seperti bahaya mekanis, listrik, kimiawi, fisik, biologis, ergonomi, dan psikologis.Dalam menentukan prioritas risiko, terdapat dua faktor utama yang perlu diperhatikan, yaitu probabilitas dan dampak. Probabilitas menunjukkan kemungkinan suatu risiko terjadi, sedangkan dampak menunjukkan tingkat kerugian atau kegawatan apabila risiko tersebut terjadi. Kedua faktor tersebut membantu perusahaan menentukan risiko yang perlu mendapatkan perhatian lebih dahulu.
Metode Delphi dapat digunakan untuk memperoleh penilaian dari pihak yang memahami risiko, sedangkan prosedur perbandingan berpasangan dapat digunakan untuk memberikan bobot terhadap berbagai kriteria dalam pengambilan keputusan. Pengujian konsistensi juga diperlukan untuk memastikan bahwa hasil perbandingan dapat dinilai secara konsisten.
Menurut kami, pemetaan risiko sangat membantu perusahaan dalam menggunakan sumber daya secara lebih efektif. Dengan mengetahui risiko yang memiliki prioritas lebih tinggi, perusahaan dapat menentukan tindakan penanganan secara lebih terarah. Oleh karena itu, pemetaan risiko perlu dilakukan secara sistematis dan didukung oleh identifikasi risiko yang baik agar tujuan manajemen risiko dapat tercapai.
Pemetaan risiko juga perlu dilanjutkan dengan pemilihan strategi penanganan yang tepat, seperti menghindari, mengurangi, mengalihkan, atau menerima risiko, serta ditinjau secara berkala agar peta risiko tetap sesuai dengan kondisi perusahaan.
Daftar Pustaka
Ramli, S. (2010). Pedoman Praktis Manajemen Risiko dalam Perspektif K3 OHS Risk Management.
Suma’mur. (2009). Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan.
Saaty, T. L. (1980). The Analytic Hierarchy Process. New York: McGraw-Hill.


























