Jurnal Security | Tangerang — PT Tata Karya Gemilang melalui Gemilang Facility Service membuka booth di Hall 6 Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Kehadiran di pameran perdagangan internasional ini menjadi peluang memperkenalkan ekosistem layanan, memperluas jejaring bisnis, sekaligus menjajaki peluang menuju pasar ASEAN.
Dalam pameran yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 tersebut, Gemilang memperkenalkan beragam layanan pendukung operasional perusahaan. Layanan tersebut meliputi jasa keamanan atau security service, virtual office, jasa basmi rayap, pelatihan satpam, layanan informasi lowongan kerja, pengangkutan sampah Pastiklola, hingga layanan rope access.
CEO PT Tata Karya Gemilang, Salva Yurivan Saragih, mengatakan keikutsertaan dalam TEI 2026 menjadi momentum bagi perusahaan untuk bertemu langsung dengan pelaku usaha, calon pelanggan, investor, serta mitra bisnis dari berbagai sektor. “Melalui booth Gemilang Facility Service, kami membuka ruang komunikasi dan kolaborasi untuk menjajaki peluang kerja sama sekaligus memperluas jaringan bisnis,” ungkap Salva di Tangerang, Minggu (18/10).
Menurutnya, kehadiran Gemilang di TEI tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan merek dan layanan di pasar domestik. Perusahaan mulai melihat peluang untuk membawa layanan yang dikembangkan ke pasar yang lebih luas.
“Kami hadir di TEI bukan hanya untuk memperkenalkan merek, tetapi untuk membuka peluang bisnis yang di wilayah ASEAN. Gemilang Facility Services dan Basmi Rayap Pest Control ingin bertemu dengan calon pelanggan serta mitra yang membutuhkan layanan pengelolaan fasilitas dan perlindungan properti,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya ASPPHAMI (Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia).
Dari Outsourcing Menuju Layanan Terintegrasi
Kebutuhan dunia usaha terhadap layanan pendukung terus berkembang. Perusahaan tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga sistem pengelolaan yang mampu menjaga kualitas, produktivitas, keamanan, dan kelancaran operasional.
Menurut Salva, penyelenggaraan alih daya atau outsourcing di Indonesia berada dalam kerangka regulasi ketenagakerjaan. Permenaker Nomor 7 Tahun 2026 menegaskan bahwa praktik outsourcing hanya dibolehkan untuk pekerjaan penunjang, bukan kegiatan bisnis inti perusahaan.
Pekerjaan penunjang tersebut meliputi layanan kebersihan (cleaning service), penyediaan makanan dan minuman bagi pekerja, jasa pengamanan (security), penyediaan pengemudi dan angkutan pekerja, serta sejumlah layanan penunjang operasional lainnya. Karena itu, perubahan kebutuhan pasar menuntut penyedia jasa memiliki sistem kerja yang terukur.
“Saat ini kami tidak hanya bergerak di penyediaan tenaga kerja. Kami menawarkan layanan yang mencakup prosedur operasional standar (SOP), pelatihan, pemantauan, hingga evaluasi pekerjaan,” ujar pria yang juga Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengamanan Indonesia (ABUJAPI) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kehadiran Gemilang di TEI 2026 menunjukkan bahwa bisnis yang dikembangkan tidak hanya bertumpu pada satu jenis layanan. Setidaknya terdapat delapan produk dan brand layanan yang diperkenalkan dalam ekosistem Gemilang.
Di antaranya Gemilang Facility Service untuk pengelolaan fasilitas, Gemilang Academy untuk pelatihan dan pengembangan kompetensi, serta Gemilang Virtual Office untuk kebutuhan kantor virtual. Selain itu terdapat layanan Basmi Rayap Pest Control, layanan informasi lowongan kerja, pengangkutan sampah Pastiklola, serta layanan rope access untuk pekerjaan pada area dengan akses khusus.
“Keikutsertaan dalam Trade Expo Indonesia 2026 bukan sekadar kesempatan memperkenalkan layanan, melainkan juga bagian dari upaya membangun ekosistem bisnis yang saling mendukung. Industri outsourcing tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga membuka peluang kerja, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, dan membantu perusahaan pengguna jasa meningkatkan efisiensi,” tuturnya.
Di sisi ketenagakerjaan, perusahaan menyatakan berupaya menjalankan kegiatan usahanya dengan memperhatikan regulasi. Hal tersebut mencakup pengupahan, kepesertaan BPJS, pembayaran tunjangan hari raya (THR), dan pemenuhan hak pekerja lainnya.
Kepatuhan tersebut menjadi bagian penting dari bisnis berbasis tenaga kerja. Kualitas layanan tidak hanya ditentukan kemampuan personel di lapangan, tetapi juga tata kelola perusahaan terhadap pekerjanya.
Operasional Menjangkau Sejumlah Provinsi
Pengembangan ekosistem layanan tersebut ditopang jaringan operasional yang telah tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan data perusahaan, saat ini Gemilang telah mempekerjakan sekitar 5.000 karyawan yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Adapun sekitar 84,70 persen konsentrasi wilayah operasional berada di Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Barat. Jawa Tengah memiliki porsi terbesar sebesar 35,60 persen, kemudian D.I. Yogyakarta 25,77 persen dan Jawa Barat 23,33 persen.
Sementara Jawa Timur dan DKI Jakarta secara gabungan tercatat sebesar 11,54 persen. “Operasional kami juga telah menjangkau Bali, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Banten, Riau, dan Kalimantan Timur,” ungkap Salva.
Digitalisasi untuk Mengawasi Layanan
Sementara itu, Sales, Marketing and Branding Business Development Head PT Tata Karya Gemilang, Moch. Rifani Santoso, mengatakan untuk mendukung operasional di berbagai lokasi, Gemilang mulai memanfaatkan platform digital dalam pencatatan data, koordinasi, pelaporan, pemantauan aktivitas, dan evaluasi pekerjaan. Digitalisasi memungkinkan informasi dari lapangan dihimpun secara lebih sistematis.
Bagi manajemen, data tersebut dapat digunakan untuk memantau pelaksanaan pekerjaan. Sementara bagi klien, pelaporan berbasis data dapat membantu proses evaluasi kualitas layanan.
“Penguatan teknologi menjadi semakin relevan ketika bisnis facility management menangani banyak personel dan lokasi yang tersebar di berbagai daerah,” tegasnya. Namun, teknologi tetap harus berjalan beriringan dengan kompetensi tenaga kerja.
Karena itu, perusahaan menempatkan pelatihan sebagai salah satu bagian dari pengembangan SDM. Dengan basis operasional yang telah berkembang di Indonesia, Gemilang mulai mempersiapkan tahapan berikutnya yaitu pasar internasional.
Dari Pasar Domestik Menuju ASEAN
Salva mengatakan ekspansi tidak akan dilakukan secara terburu-buru. Standar pelayanan, kesiapan SDM, sistem kerja, dan pemahaman terhadap karakter pasar tujuan menjadi bagian yang harus disiapkan.
“Kami sedang mempersiapkan langkah menuju pasar ASEAN secara bertahap. Fokus kami adalah memperkuat standar layanan, kesiapan tim, dan sistem kerja, sekaligus menjajaki mitra yang memahami kebutuhan pasar setempat,” ungkap Rifani.
Untuk jangka menengah, perusahaan menempatkan kawasan ASEAN sebagai salah satu arah pengembangan bisnis menuju 2030. Vietnam dan Filipina termasuk negara yang mulai diperhatikan dalam penjajakan pasar.
Selain ASEAN, peluang kerja sama dengan mitra di Dubai, Uni Emirat Arab, juga mulai dijajaki. Peluang tersebut masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut terkait regulasi negara tujuan, kebutuhan tenaga kerja, standar kompetensi, hingga persyaratan operasional.


























