Jurnalsecurity.com | Manokwari Selatan bukan sekadar wilayah administratif di Provinsi Papua Barat. Ia adalah bentangan alam yang hidup—hutan lebat yang bernafas, sungai yang mengalir tenang dari pegunungan, serta pesisir yang menyimpan kekayaan hayati laut. Di tanah inilah manusia dan alam sejak lama belajar hidup berdampingan, saling menjaga, dan saling menghidupi. Namun, seiring waktu dan perubahan, harmoni itu menghadapi tantangan yang tak bisa diabaikan.
Kabupaten Manokwari Selatan dikenal dengan lanskapnya yang masih alami. Hutan hujan tropis membentang luas, menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna endemik Papua. Burung cenderawasih, kasuari, hingga berbagai jenis anggrek liar masih dapat dijumpai di wilayah ini. Bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar sumber kayu atau lahan kosong, melainkan “ibu” yang memberi kehidupan—tempat berburu, meramu, dan menjalankan ritual adat turun-temurun.
Di sinilah nilai pelestarian lingkungan menemukan maknanya yang paling dalam. Bagi masyarakat lokal, menjaga alam berarti menjaga identitas dan masa depan. Kearifan lokal seperti pembatasan wilayah berburu, larangan menebang pohon tertentu, hingga sistem sasi alam menjadi bentuk nyata konservasi berbasis budaya. Tradisi ini mengajarkan bahwa alam memiliki batas, dan manusia wajib menghormatinya.
Namun, Manokwari Selatan tidak sepenuhnya luput dari tekanan modernisasi. Pembukaan lahan, aktivitas pertambangan, dan eksploitasi sumber daya alam menjadi ancaman nyata jika tidak dikelola dengan bijak. Jalan pembangunan yang tidak ramah lingkungan berisiko merusak ekosistem, memicu banjir, tanah longsor, serta menghilangkan sumber penghidupan masyarakat adat dalam jangka panjang.
Pelestarian lingkungan di Manokwari Selatan bukan berarti menolak pembangunan, melainkan menata arah pembangunan agar selaras dengan alam. Pembangunan berkelanjutan menjadi kunci—memanfaatkan sumber daya alam tanpa menghabiskannya. Sektor pertanian, misalnya, dapat dikembangkan dengan pendekatan agroforestri yang menjaga tutupan hutan. Demikian pula sektor perikanan pesisir yang perlu menerapkan penangkapan ramah lingkungan agar ekosistem laut tetap terjaga.
Peran pemerintah daerah menjadi sangat penting dalam menjaga keseimbangan ini. Kebijakan tata ruang yang berpihak pada kelestarian lingkungan, pengakuan hak masyarakat adat atas wilayah kelola, serta pengawasan ketat terhadap izin usaha harus berjalan seiring. Di sisi lain, edukasi lingkungan kepada generasi muda menjadi investasi jangka panjang agar nilai-nilai cinta alam tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Harapan juga tumbuh dari keterlibatan komunitas dan organisasi lingkungan. Di beberapa kampung, warga mulai aktif melakukan penanaman kembali hutan, menjaga mata air, dan membersihkan pesisir. Langkah-langkah kecil ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar bagi keberlanjutan ekosistem Manokwari Selatan.
Manokwari Selatan mengajarkan bahwa pelestarian lingkungan bukan slogan kosong, melainkan pilihan hidup. Pilihan untuk tidak serakah, untuk berpikir jauh ke depan, dan untuk mewariskan alam yang sehat kepada anak cucu. Ketika hutan tetap hijau, sungai tetap jernih, dan laut tetap kaya, maka kesejahteraan masyarakat pun akan mengikuti.
Di ujung Papua Barat ini, alam seakan berbisik lembut: ia akan terus memberi selama dijaga. Manokwari Selatan berdiri sebagai pengingat bahwa masa depan pembangunan Indonesia Timur sangat bergantung pada keberanian kita menjaga lingkungan hari ini. Seputar lingkungan bisa akses DLH Manokwari Selatan.[]


























