Jurnalsecurity.com | Di era digital seperti sekarang, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setiap momen terasa kurang lengkap jika tidak dibagikan—mulai dari foto koper yang sudah rapi, tiket perjalanan di tangan, hingga unggahan singkat bertuliskan “akhirnya liburan juga” dengan latar bandara atau stasiun. Bagi sebagian orang, ini hanyalah ekspresi kebahagiaan. Namun tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat membuka celah risiko keamanan yang serius.
Mengunggah rencana liburan sebelum berangkat, atau membagikan lokasi wisata secara real time, sama artinya dengan memberi tahu banyak orang bahwa rumah sedang dalam keadaan kosong. Informasi ini bukan hanya dilihat oleh teman atau keluarga, tetapi juga berpotensi diakses oleh pihak-pihak yang memiliki niat tidak baik. Pelaku kejahatan kerap memanfaatkan media sosial sebagai “sumber intelijen” untuk mengidentifikasi target rumah kosong yang minim pengawasan.
Bahaya ini sering kali dianggap sepele karena pelaku tidak selalu berasal dari lingkaran pertemanan dekat. Bisa saja unggahan tersebut dilihat oleh akun anonim, pihak yang mengenal lingkungan sekitar, atau bahkan orang yang secara tidak langsung mengetahui lokasi rumah pemilik akun. Dari satu unggahan sederhana, pelaku dapat menyimpulkan banyak hal: berapa lama rumah ditinggal, seberapa sering pemilik bepergian, hingga kebiasaan harian yang biasanya terlihat dari pola unggahan.
Selain itu, fitur penandaan lokasi (location tag) pada foto atau video juga menambah tingkat kerawanan. Ketika lokasi wisata ditampilkan secara jelas, waktu keberangkatan dan jarak dari rumah dapat diperkirakan. Bagi pelaku kejahatan, informasi ini menjadi petunjuk bahwa pemilik rumah kecil kemungkinan kembali dalam waktu dekat.
Karena itu, bijak bermedia sosial menjadi bagian penting dari upaya menjaga keamanan rumah saat liburan panjang. Menahan diri untuk tidak mengunggah aktivitas liburan secara langsung bukan berarti mengurangi kesenangan, melainkan bentuk kewaspadaan. Momen liburan tetap bisa dibagikan, tetapi sebaiknya dilakukan setelah kembali ke rumah dalam keadaan aman.
Mengunggah foto-foto liburan setelah pulang justru memberi rasa tenang tanpa menghilangkan kenangan indah yang ingin dibagikan. Selain itu, cara ini juga membantu menjaga privasi dan keamanan keluarga. Liburan adalah waktu untuk menikmati kebersamaan dan suasana baru, bukan ajang memberi sinyal bahwa rumah sedang tak berpenghuni.
Kesadaran sederhana ini sering kali menjadi pembeda antara liburan yang benar-benar tenang dan liburan yang berujung pada masalah. Di tengah kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi, menjaga keamanan rumah tidak hanya dilakukan dengan kunci dan pagar, tetapi juga dengan kebijaksanaan dalam berbagi cerita di ruang digital.[]


























