1. Mengendalikan Emosi agar Tidak Memicu Konflik
Hal pertama dan paling utama saat berhadapan dengan premanisme adalah tetap tenang. Preman biasanya akan mencoba memancing emosi atau memprovokasi dengan ucapan kasar dan gestur mengancam. Jika satpam merespons dengan emosi yang meledak-ledak, itu justru memberi keuntungan bagi pelaku dan bisa memicu konflik lebih besar. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan emosi adalah kunci utama.
Profesionalisme ditunjukkan melalui sikap tenang, postur tubuh yang tidak mengintimidasi, dan nada bicara yang stabil. Dengan tetap tenang, satpam menunjukkan bahwa dirinya tidak mudah diprovokasi dan mampu mengendalikan situasi dengan bijaksana. Hal ini juga akan menimbulkan kesan bahwa satpam tersebut adalah sosok yang tangguh secara mental dan sulit digertak. Sikap ini bisa membuat preman berpikir ulang sebelum melanjutkan tindakannya.
2. Berbicara dengan Tegas namun Sopan
Selain tetap tenang, satpam perlu berbicara dengan tegas namun sopan. Suara yang lantang tetapi tidak bernada tinggi dapat menunjukkan bahwa satpam tidak takut namun juga tidak mencari konfrontasi. Misalnya, menggunakan kalimat seperti, “Mohon untuk tidak membuat keributan di sini. Tempat ini diawasi dan kami menjaga keamanan untuk kenyamanan bersama.”
Tegas bukan berarti kasar. Menunjukkan wibawa melalui nada bicara yang penuh keyakinan dan tidak terbata-bata akan membuat pelaku berpikir bahwa satpam sudah sangat paham dengan tugasnya. Hindari kata-kata provokatif yang bisa memicu emosi, seperti sindiran atau ancaman balik.
3. Utamakan Negosiasi Mengurangi Bentrok Fisik
Jika preman mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan atau tidak kooperatif, usahakan untuk tetap mengutamakan negosiasi. Satpam perlu memahami bahwa tidak semua konflik harus diselesaikan dengan konfrontasi fisik. Justru, negosiasi bisa menjadi jalan keluar yang paling aman bagi semua pihak.
Menunjukkan niat untuk berdialog dapat meredakan ketegangan. Selain itu, satpam perlu mendengarkan apa yang menjadi keluhan atau tuntutan dari pihak preman. Dengan mendengarkan, pelaku akan merasa dihargai, sehingga ada peluang situasi bisa lebih kondusif. Tentu saja, satpam tetap harus mempertahankan posisi aman dan selalu waspada terhadap perubahan gestur atau bahasa tubuh yang mencurigakan.
4. Jika Situasi Memburuk Hubungi Pihak Berwenang
Ada kalanya situasi tidak berjalan sesuai harapan. Jika preman mulai melakukan tindakan yang membahayakan, seperti membawa senjata atau mengancam fisik, jangan ragu untuk meminta bantuan. Sesuai dengan SOP, satpam bisa memanggil rekan kerja melalui radio komunikasi atau langsung menghubungi pihak berwenang, seperti polisi.
Pastikan satpam tetap berada di posisi aman sambil menunggu bantuan tiba. Jangan sampai mencoba mengatasi sendiri jika situasi sudah berada di luar kendali. Lebih baik mengutamakan keselamatan diri dan orang lain daripada memaksakan tindakan yang berisiko. Jika ada sistem alarm atau tombol panik, segera aktifkan untuk menarik perhatian rekan setim atau personel keamanan lainnya.



























