Jurnalsecurity.com | Ketika musim hujan tiba, masyarakat Ciamis kembali dihadapkan pada kewaspadaan tinggi terhadap ancaman banjir dan longsor. Kabupaten yang dikenal dengan bentang alam berbukit, aliran sungai yang panjang, serta wilayah pedesaan yang subur ini sebenarnya menyimpan potensi bencana jika keseimbangan lingkungan tidak dijaga. Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas hujan yang semakin tinggi—ditambah perubahan penggunaan lahan—membuat risiko bencana semakin meningkat.
Di berbagai kecamatan seperti Banjarsari, Cipaku, hingga Sukadana, hujan lebat kerap menyebabkan luapan sungai dan pergerakan tanah di lereng-lereng bukit. Kondisi ini bukan hanya mengancam rumah warga, tetapi juga aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Padahal, sebagian besar bencana tersebut dapat diminimalkan jika alam dijaga dengan baik.
Peran Hutan dan Vegetasi dalam Menahan Air
Salah satu faktor penting yang menjaga Ciamis tetap aman adalah keberadaan vegetasi yang sehat. Pohon-pohon besar dengan akar kuat berfungsi menahan laju air hujan agar tidak langsung mengalir deras ke sungai dan pemukiman. Akar pohon juga membantu memperkuat struktur tanah, sehingga risiko longsor dapat ditekan. Sayangnya, ketika hutan ditebang atau lahan dibuka tanpa perencanaan yang benar, kemampuan tanah untuk menahan air ikut berkurang. Akibatnya, air hujan melimpas tak terkendali, menggerus tanah, dan memicu banjir maupun longsor.
Konservasi Sungai dan Daerah Resapan Air
Ciamis memiliki banyak aliran sungai yang menjadi nadi kehidupan masyarakat. Namun, jika sungai dipenuhi sampah, sedimentasi, atau bangunan liar, kapasitas alirannya berkurang drastis. Upaya sederhana seperti membersihkan bantaran sungai, mencegah pembuangan sampah, dan menjaga area resapan air sangat berpengaruh besar dalam mencegah bencana.
Di beberapa desa, gerakan warga membersihkan selokan dan menanam pohon di sekitar sungai terbukti mampu mengurangi risiko luapan air saat hujan deras. Langkah kecil ini menunjukkan bahwa pencegahan tidak selalu membutuhkan biaya tinggi—yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif.
Pertanian Ramah Lingkungan Sebagai Solusi
Sebagian besar masyarakat Ciamis menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Penggunaan teknik pertanian yang tepat, seperti terasering di lahan miring, penanaman pohon keras di lahan terbuka, dan pengurangan penggunaan bahan kimia berlebihan dapat membantu memperbaiki kualitas tanah. Pertanian yang ramah lingkungan tidak hanya menjaga hasil panen, tetapi juga berperan besar dalam mengurangi kerentanan bencana.
Peran Masyarakat dan Pemerintah
Pemerintah daerah Ciamis telah melakukan berbagai langkah, seperti membuat peta rawan bencana, memperkuat sistem peringatan dini, hingga membangun infrastruktur pengendali banjir. Namun, upaya pemerintah tidak akan cukup tanpa partisipasi masyarakat. Menjaga alam perlu dilakukan bersama—mulai dari keluarga, kelompok tani, komunitas pemuda, hingga lembaga desa.
Kegiatan kecil seperti rutin menanam pohon, tidak membuang sampah ke sungai, menjaga kebersihan drainase, dan melaporkan potensi longsor kepada aparat menjadi kontribusi penting yang dampaknya sangat besar.
Menjaga Alam Hari Ini, Menjaga Masa Depan Ciamis
Melindungi alam bukan hanya tugas generasi saat ini, tetapi investasi untuk masa depan. Ciamis adalah wilayah yang kaya, indah, dan penuh potensi. Namun semua itu bisa hilang jika kerusakan lingkungan dibiarkan. Dengan menjaga keseimbangan alam—melalui penghijauan, konservasi air, pertanian berkelanjutan, dan disiplin dalam menjaga kebersihan—kita bukan hanya mencegah banjir dan longsor, tetapi juga memastikan bahwa Ciamis tetap menjadi tanah yang subur dan aman bagi anak-cucu nanti.
Menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Ciamis membutuhkan kepedulian kita sekarang, sebelum bencana datang tanpa peringatan.[]





























