Jurnalsecurity.com | Grooming atau penampilan fisik Satpam merupakan aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Penampilan yang rapi, bersih, dan sesuai standar bukan hanya menunjukkan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga mencerminkan harga diri dan kebanggaan profesi Satpam itu sendiri.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai garda terdepan keamanan, pandangan pertama dari stakeholder, pengunjung, maupun pelanggan selalu tertuju pada penampilan Satpam.
Mereka tidak langsung menilai apakah Satpam itu pintar atau tidak, melainkan yang pertama kali diperhatikan adalah tampilan luar: apakah rapi, bersih, siap siaga, dan mencerminkan sikap profesional.
Penampilan yang baik menciptakan kesan positif dan membangun kepercayaan. Satpam yang tampil prima menunjukkan bahwa ia memiliki disiplin, tanggung jawab, dan siap melayani serta menjaga keamanan dengan maksimal.
Sebaliknya, penampilan yang tidak sesuai standar bisa menimbulkan kesan lalai, kurang disiplin, bahkan menurunkan wibawa dan kepercayaan publik terhadap institusi tempatnya bertugas.
Grooming Bukan Sekadar Gaya, Tapi Citra dan Tanggung Jawab
Grooming bukanlah tentang gaya atau tren semata, tetapi tentang membentuk citra yang profesional dan menjaga standar etika kerja. Dalam konteks profesi Satpam, grooming yang baik mencakup:
Rambut: bersih, rapi, tidak panjang berlebihan (Masih banyak Satpam yang terlihat di lingkungan kerja, seolah-olah menganggap tidak penting) seperti rambut panjang dan tidak rapi atau di sengaja dengan model yang tidak standar.
Seragam: lengkap, bersih, disetrika, sesuai standar perusahaan dan regulasi, masih ada juga searagam tidak di setrika dan tidak tidak menggunakan parfum, sehingga yang terjadi penilaian menjadi Satpam bau badan.
Sepatu: hitam, mengkilap, dalam kondisi layak pakai ini yang menjadi prihatin karena sepatu tidak di semir dan bahkan menggunakan sepatu tidak standar sesuai yang ditetapkan.
Atribut: dipasang lengkap dan benar sesuai ketentuan “dengan lengkap” terkadang banyak yang terlihat aneh karena di bordir tidak sesuai dan pemambahan atribut lainnya.
Sikap tubuh dan bahasa tubuh: menunjukkan kesigapan dan kesiapan, tentunya seorang Satpam dalam situasi dan kondisi apapun siap memberikan respon dan membantu customer atau pengunjung lainnya di lingkungan kerja.
Grooming sebagai Representasi Etos Kerja
Penampilan yang rapi bukan hanya mempengaruhi cara orang memandang Satpam, tetapi juga berdampak pada performa dan rasa percaya diri. Satpam yang berpenampilan baik cenderung:
Lebih siap dalam bertugas
Lebih dihargai oleh pelanggan atau tamu
Membangun citra positif institusi/perusahaan
Menjadi contoh kedisiplinan bagi rekan kerja
Penampilan Adalah Pesan Pertama Tanpa Kata
Grooming adalah bagian dari komunikasi non-verbal yang sangat kuat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, penampilan Satpam sudah menyampaikan pesan tentang kedisiplinan, keseriusan, dan profesionalitas.
Oleh karena itu, penting bagi setiap Satpam untuk menjadikan grooming sebagai bagian dari integritas diri, bukan hanya rutinitas formalitas semata.
Grooming Satpam: Bukan Sekadar Penampilan, Tapi Citra dan Nilai Diri
Di lapangan, masih sering kita temui oknum Satpam yang belum memiliki kesadaran bahwa grooming adalah bagian penting dari identitas diri sekaligus cerminan profesionalisme. Padahal, seorang Satpam adalah duta atau perwakilan langsung dari perusahaan tempat ia bertugas.
Artinya, apa yang terlihat dari seorang Satpam secara langsung memengaruhi citra perusahaan di mata tamu, stakeholder, dan masyarakat umum.
Sayangnya, sebagian Satpam masih menganggap grooming hanya sebatas formalitas luar, bukan bagian dari disiplin, etika, dan sikap kerja. Padahal, grooming yang baik tidak bisa ditawar atau ditoleransi—ini bukan soal selera, tetapi standar profesionalitas. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan penampilan yang kotor, lusuh, tidak rapi, atau sembarangan.
Grooming Buruk = Sikap Kerja Buruk
Perlu ditegaskan bahwa grooming mencerminkan perilaku. Seorang Satpam yang berpenampilan tidak rapi, malas mencuci seragam, membiarkan sepatu kotor, atau menggunakan atribut asal-asalan, pada umumnya menunjukkan:
Kurangnya disiplin
Rendahnya rasa tanggung jawab
Tidak peduli terhadap lingkungan kerja
Minimnya kebanggaan terhadap profesinya sendiri
Dalam sudut pandang profesional, “jika penampilan saja tidak bisa dijaga, bagaimana bisa dipercaya menjaga keamanan orang lain?”
Dengan kata lain, Satpam yang tidak mampu atau tidak mau menjaga grooming sebaiknya tidak menggunakan seragam Satpam, karena telah mencoreng martabat profesi. Seragam bukan hanya pakaian kerja, tapi simbol kehormatan dan kepercayaan yang diberikan oleh perusahaan dan masyarakat.
Tegas Tapi Mendidik: Menumbuhkan Budaya Grooming yang Kuat
Meski pendekatan tegas diperlukan, perusahaan juga harus:
Menanamkan nilai-nilai disiplin melalui pelatihan dan pengawasan rutin
Menyediakan sarana pendukung untuk menjaga kebersihan dan kerapian
Memberikan sanksi bertingkat namun edukatif bagi pelanggaran grooming
Menjadikan grooming sebagai bagian dari penilaian kinerja (evaluasi rutin)
Grooming itu bentuk nyata dari sikap mental dan rasa tanggung jawab Satpam terhadap dirinya sendiri, pekerjaannya, dan institusi tempat ia bertugas. Tidak ada alasan untuk berpenampilan buruk dalam profesi yang menuntut kewibawaan, kesigapan, dan kepercayaan.
Menjadi Satpam bukan hanya soal menjaga keamanan, tetapi juga menjaga citra. Dan citra dimulai dari penampilan.[]