Jurnalsecurity.com | Menjadi seorang satpam bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak proses awal hingga benar-benar mulai bekerja, ada banyak tahapan yang harus dilalui. Calon satpam diwajibkan mengikuti pelatihan khusus serta memiliki ijazah Gada Pratama dan KTA Satpam yang masih aktif. Proses ini tentu membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.
Namun, tuntutan profesionalitas tersebut sering kali tidak seimbang dengan penghasilan yang diterima. Jika kita mengambil contoh wilayah Jakarta, gaji satpam pada umumnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, itupun dengan perhitungan yang sangat ketat. Ketika satpam sudah berkeluarga—memiliki istri dan anak—tantangan ekonomi menjadi jauh lebih berat.
Tulisan ini bukan sekadar asumsi. Pengamatan dan analisis ini juga didasarkan pada hasil obrolan langsung dengan beberapa satpam mengenai kondisi penghasilan mereka setiap bulan. Banyak dari mereka mengakui bahwa gaji yang diterima sering kali tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup yang layak, terutama di kota besar dengan biaya hidup yang tinggi seperti Jakarta. Akibatnya, sebagian satpam terpaksa mencari pekerjaan tambahan, mengurangi kebutuhan keluarga, atau hidup dalam kondisi serba pas-pasan.
Di sisi lain, peran satpam sangatlah vital.
Mereka bertugas menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan kerja maupun tempat tinggal masyarakat. Ironisnya, mereka yang menjaga rasa aman justru kerap hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Kondisi ini patut menjadi perhatian bersama, baik oleh perusahaan pengguna jasa, penyedia tenaga keamanan, maupun pemerintah, agar kesejahteraan satpam dapat lebih diperhatikan dan sebanding dengan tanggung jawab yang mereka emban.
Simulasi Kondisi Keuangan Satpam Perantau yang Tinggal di Kos-Kosan:
Analisa ini menggambarkan kondisi seorang satpam yang masih bujangan, berstatus perantau, dan tinggal di kos-kosan, dengan asumsi gaji standar UMP Jakarta sebesar Rp5.729.876 per bulan.
Rincian Pengeluaran Bulanan (Simulasi)
1. Biaya kos-kosan : Diasumsikan sebesar Rp500.000 per bulan untuk kos sederhana.
2. Biaya makan harian : Rata-rata Rp60.000 per hari, dengan rincian:
● Pagi: Rp20.000
● Siang: Rp20.000
● Malam: Rp20.000
Total per bulan: Rp1.800.000
3. Biaya kuota internet dan media sosial :
Untuk komunikasi dan hiburan dasar: Rp200.000 per bulan.
4. Biaya kebutuhan bulanan :
Termasuk sabun, sampo, deterjen, rokok (bagi yang merokok), dan kebutuhan kecil lainnya: Rp500.000 per bulan.
5. Biaya nongkrong atau jalan-jalan : saat libur
Diasumsikan 4 kali libur dalam sebulan, dengan rata-rata pengeluaran total Rp800.000 per bulan.
6. Tabungan, cicilan, atau arisan :
Diambil rata-rata Rp700.000 per bulan, sebagai salah satu poin penting dalam pengelolaan keuangan.
Total Pengeluaran Bulanan
Jika dijumlahkan, total pengeluaran rutin mencapai sekitar:
Rp4.500.000 per bulan
Sisa Gaji
Dari gaji Rp5.729.876, setelah dikurangi pengeluaran rutin:
Sisa: ± Rp1.229.876
Namun, sisa tersebut belum memperhitungkan biaya tidak terduga, seperti:
● Sakit atau berobat
● Pulang kampung mendadak
● Perbaikan motor atau transportasi
● Kebutuhan keluarga di kampung
● Kenaikan harga kebutuhan pokok
Dalam praktiknya, sisa gaji ini bisa cepat habis atau bahkan menjadi minus.
Kesimpulan Sementara:
Untuk satpam yang masih bujangan saja, gaji UMP Jakarta terbilang cukup tetapi sangat terbatas. Hampir tidak ada ruang untuk peningkatan kualitas hidup, apalagi jika suatu saat harus menanggung istri dan anak. Simulasi ini menunjukkan bahwa kesejahteraan satpam masih menjadi pekerjaan rumah besar, meskipun tanggung jawab dan risiko kerja mereka tidaklah kecil.
1. Tuntutan Profesional Tinggi, Imbalan Minim:
Satpam diwajibkan melalui pelatihan resmi, memiliki ijazah Gada Pratama, serta KTA yang aktif. Mereka memikul tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan dan ketertiban, namun realitanya penghasilan yang diterima belum sebanding dengan standar profesionalitas dan risiko kerja yang dihadapi setiap hari.
2. Gaji UMP Cukup untuk Lajang, Rapuh untuk Masa Depan:
Simulasi keuangan menunjukkan bahwa gaji UMP Jakarta hanya cukup—dan itu pun sangat terbatas—untuk satpam bujangan. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, sisa penghasilan hampir tidak menyisakan ruang untuk tabungan darurat, apalagi persiapan menikah, pendidikan anak, atau kepemilikan rumah. Sedikit saja ada kebutuhan tak terduga, kondisi keuangan bisa langsung goyah.
3. Menjaga Keamanan Orang Lain, Mengorbankan Kesejahteraan Sendiri:
Ironisnya, mereka yang bertugas menjaga rasa aman masyarakat justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Banyak satpam terpaksa mencari pekerjaan tambahan atau menekan kebutuhan keluarga demi bertahan hidup. Kondisi ini menjadi alarm bagi perusahaan pengguna jasa, penyedia tenaga keamanan, dan pemerintah untuk lebih serius memikirkan kesejahteraan satpam secara berkelanjutan.





















