Jurnal Security | Kuala Lumpur– Delegasi Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Satpam Indonesia (DPP APSI) dan Badan Pengurus Pusat Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (BPP ABUJAPI) menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Persatuan Industri Keselamatan Malaysia (PIKM) di M Resort Hotel, Kuala Lumpur, Kamis (23/7).
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antarpelaku industri keamanan swasta Indonesia dan Malaysia, sekaligus membuka ruang diskusi mengenai pengembangan profesi keamanan di kawasan Asia Tenggara.
Delegasi Indonesia dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP APSI Azis, didampingi Sekretaris Jenderal DPP APSI Wibisono. Turut hadir Ketua APSI Kepulauan Riau Daeng Syafar. Sementara dari BPP ABUJAPI hadir Irjen Pol (Purn.) Udeng bersama Boy sebagai perwakilan organisasi.
Adapun dari pihak tuan rumah, rombongan disambut oleh jajaran pengurus PIKM, di antaranya Datok Mayjen (Purn.) Datok Abu Sofiya dan Kapten Sahabudin.
Dalam suasana penuh keakraban, kedua belah pihak berdiskusi mengenai perkembangan industri jasa pengamanan di masing-masing negara. Jamuan makan malam tersebut diharapkan mampu memperkuat tali silaturahmi sekaligus menjadi wadah berbagi pengalaman dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor keamanan.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Jenderal PIKM Kapten Sahabudin menjelaskan bahwa sistem pendidikan bagi personel keamanan di Malaysia memiliki beberapa perbedaan dengan Indonesia. Menurutnya, biaya pelatihan anggota keamanan di Malaysia sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan penyedia jasa keamanan (BUJP) dengan nilai sekitar RM600 per peserta. Masa pendidikan berlangsung selama tujuh hari, dan jenjang pelatihannya hanya mengenal satu tingkat yang setara dengan Gada Pratama di Indonesia.
“Di Malaysia belum terdapat jenjang lanjutan yang setara dengan Gada Madya maupun Gada Utama,” jelas Kapten Sahabudin dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, delegasi Indonesia menjelaskan bahwa sistem pembinaan profesi satpam di Indonesia telah memiliki jenjang kompetensi yang lebih lengkap, yaitu Gada Pratama, Gada Madya, dan Gada Utama. Dalam praktiknya, peserta pelatihan di Indonesia umumnya membiayai sendiri pendidikan untuk memperoleh sertifikasi sesuai jenjang yang diikuti.
Selain membahas sistem pendidikan, pertemuan juga mengulas perkembangan profesi keamanan di kedua negara. Indonesia telah menetapkan 30 Desember 1980 sebagai Hari Lahir Satpam, sekaligus mengakui satpam sebagai profesi yang memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan lingkungan dan objek vital. Sebaliknya, Malaysia hingga saat ini masih belum menetapkan hari khusus sebagai Hari Lahir Personel Keamanan.
Dalam kesempatan tersebut, pihak PIKM juga menyampaikan bahwa pada 24 Juli 2026 akan diselenggarakan pemberian penghargaan kepada personel keamanan dan perusahaan penyedia jasa keamanan (BUJP) Malaysia sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam mendukung keamanan nasional.
Pertemuan antara organisasi profesi dan asosiasi perusahaan jasa keamanan dari Indonesia dan Malaysia ini dinilai menjadi langkah positif dalam membangun kerja sama regional. Dengan semakin berkembangnya tantangan keamanan, sinergi antarpelaku industri keamanan di kawasan ASEAN dinilai penting untuk meningkatkan profesionalisme, pertukaran pengetahuan, serta memperkuat standar kompetensi personel keamanan.
Melalui komunikasi dan silaturahmi yang berkelanjutan, diharapkan hubungan antara organisasi keamanan Indonesia dan Malaysia dapat terus berkembang sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan industri jasa pengamanan di kawasan ASEAN.[]

























