Jurnalsecurity.com | Perjalanan hidup saya dimulai dari langkah sederhana sebagai seorang satpam di usia 20 tahun. Seiring waktu, saya terus belajar, berkembang, dan dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar—mulai dari menjadi Team Leader di usia 23, Supervisor di usia 24, hingga Senior Supervisor di usia 25. Tidak berhenti di situ, perjalanan berlanjut menjadi Chief Security di usia 26 dan Trainer di usia 27. Setiap tahap membawa pelajaran berharga yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan kepemimpinan saya.
Memasuki usia 34 tahun, arah hidup saya berkembang ke dunia akademik sebagai seorang dosen. Dari sana, saya mulai menyalurkan pengalaman dan pemikiran melalui tulisan, hingga pada usia 36 tahun aktif menjadi penulis artikel dan buku. Dedikasi tersebut terus berlanjut hingga mencapai posisi Senior Manager di usia 37. Semua pencapaian ini bukan sekadar jabatan, tetapi bagian dari proses panjang untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain.
Kini, di usia 40 tahun, saya bersyukur telah memiliki 29 buku yang menjadi karya nyata perjalanan hidup saya—dan jumlah ini terus bertambah. Bagi saya, umur hanyalah angka. Jika merujuk pada usia “Nabi Muhammad SAW” 63 tahun sebagai gambaran perjalanan hidup, maka masih ada waktu yang bisa dimanfaatkan untuk terus berkarya. Namun, pada akhirnya, tidak ada yang mengetahui kapan waktu itu akan berakhir. Yang pasti, setiap manusia akan sampai pada titik akhir kehidupannya.
Karena itu, saya memilih untuk meninggalkan sesuatu yang abadi—karya tulis yang dapat diwariskan kepada anak cucu kelak. Bukan hanya cerita tentang perjalanan karier, tetapi juga nilai, pengalaman, dan inspirasi yang bisa terus hidup melampaui waktu. Inilah warisan sejati yang ingin saya tinggalkan: jejak karya yang memberi makna dan manfaat bagi generasi berikutnya.
Salam Karya Abadi.
























